Ada satu hal yang selalu menarik perhatian saya ketika menghadiri sebuah acara: bukan hanya apa yang dipamerkan, tetapi cerita apa yang sebenarnya sedang berlangsung di baliknya.
Siapa orang-orang yang menggerakkan industrinya? Bagaimana sebuah produk memperoleh identitas? Apa yang membuat sebuah komunitas bertahan? Dan bagaimana semua pengalaman tersebut dapat didokumentasikan dengan cara yang berbeda?
Pertanyaan-pertanyaan itu kembali muncul ketika saya menghadiri Indonesian Cigar Festival (ICF) 2026, yang berlangsung pada 1–3 Oktober 2026 di Bali Collection, Nusa Dua.
Kali ini, saya datang membawa satu perspektif tambahan: CigarComic, sebuah proyek kreatif yang kami kembangkan untuk mengeksplorasi dunia cerutu Indonesia melalui medium komik digital berbantuan kecerdasan buatan (AI).
Saya ingin melihat apakah sebuah pengalaman nyata dapat diterjemahkan menjadi cerita visual tanpa kehilangan konteks budaya dan manusia yang ada di dalamnya.
Dan dari pengalaman itulah lahir CigarComic Special Edition-Indonesian Cigar Festival 2026.
ICF 2026 mempertemukan beragam pelaku dalam ekosistem cerutu. Di sepanjang kawasan festival, terdapat booth dengan karakter yang berbeda-beda. Ada yang menonjolkan sejarah, identitas lokal, bahan baku, desain kemasan, hingga pendekatan lifestyle.
Saya melihat kehadiran berbagai nama, termasuk Dos Hermanos, Wismilak Cigar, AKAR NUSANTARA, Besuki Raya-El Gaucho, Esperitu, Lahbakoe, dan jenama cerutu Indonesia lainnya.
Masing-masing membawa ceritanya sendiri.
Hal yang menarik bagi saya adalah bagaimana industri tradisional seperti cerutu sesungguhnya menyimpan banyak aspek yang dapat dieksplorasi di luar produknya. Ada pertanian, pengolahan bahan baku, keterampilan manusia, desain, distribusi, identitas daerah, hingga dinamika komunitas.
Semua itu merupakan bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang layak memperoleh ruang dokumentasi dan pembahasan lebih luas.
Salah satu pengalaman yang saya dokumentasikan adalah pertemuan di area AKAR NUSANTARA.
Identitas Cigars, Culture & Community yang mereka tampilkan menarik perhatian saya.
Dari desain kemasan, ilustrasi, hingga materi visualnya, terlihat bagaimana elemen budaya Nusantara dapat digunakan sebagai bahasa identitas sebuah jenama. Saya juga mengabadikan pertemuan di lingkungan Wismilak Cigar, serta mendokumentasikan beragam booth lain yang memperlihatkan wajah industri dengan pendekatan berbeda.
Besuki Raya, misalnya, menghadirkan materi visual mengenai daun tembakau dan bahan baku. Sementara El Gaucho memperlihatkan pendekatan display produk dengan karakter grafis yang khas. Esperitu juga hadir dengan identitas produknya sendiri.
Pengalaman seperti ini mengingatkan saya bahwa membangun sebuah brand tidak hanya berkaitan dengan menjual sesuatu. Ia juga berkaitan dengan bagaimana sebuah identitas dibangun, dikomunikasikan, dan diterjemahkan menjadi pengalaman yang dapat dikenali orang lain. Dalam konteks Indonesia, kekayaan budaya dan keberagaman daerah memberikan ruang eksplorasi kreatif yang sangat luas.
Ada pemandangan lain yang menarik perhatian saya di kawasan festival.
Mobil-mobil klasik dari Tuksedo Studio ditampilkan di dekat area cigar lounge. Salah satunya mobil klasik merah yang menjadi elemen visual sangat kuat ketika malam tiba. Bagi saya, pertemuan antara dunia otomotif klasik dan festival cerutu memperlihatkan satu kesamaan menarik: keduanya memiliki hubungan dengan craftsmanship.
Keduanya melibatkan detail, proses, estetika, dan keterampilan manusia yang tidak dapat dijelaskan hanya dari tampilan produk akhirnya. Hal inilah yang kemudian menginspirasi saya untuk menjadikan area Tuksedo Studio sebagai latar halaman penutup CigarComic Special Edition.
Dalam versi komik, saya dan para karakter CigarComic berkumpul di depan mobil-mobil klasik tersebut.
Sebuah adegan fiksi visual yang terinspirasi dari lokasi nyata, sekaligus cara untuk mengabadikan pengalaman festival melalui sudut pandang yang lebih personal.
Bagian yang paling menarik bagi saya justru dimulai setelah dokumentasi terkumpul. Foto-foto dari kawasan festival, booth, pertemuan dengan orang-orang, detail produk, hingga suasana malam menjadi bahan referensi untuk membangun sebuah cerita visual.
Dengan bantuan AI generatif, saya mulai menerjemahkan dokumentasi tersebut menjadi ilustrasi bergaya CigarComic. Prosesnya tidak hanya berupa memasukkan foto lalu meminta mesin membuat gambar.
Ada banyak keputusan kreatif yang tetap harus dibuat.
Saya harus menentukan bagaimana karakter utama ditempatkan, bagian mana dari dokumentasi yang perlu diangkat, bagaimana kesinambungan visual dijaga, serta pesan apa yang ingin disampaikan melalui setiap halaman.
Dari proses tersebut, CigarComic Special Edition berkembang menjadi delapan halaman:
Indonesian Cigar Festival 2026 — pembuka visual festival.
Hari Pertama di ICF 2026 — memasuki kawasan Bali Collection.
Menikmati Suasana Festival — cerita mengenai interaksi dan komunitas.
Panggung, Komunitas, dan Penutup — atmosfer dan identitas budaya festival.
AKAR NUSANTARA — cerita tentang identitas lokal.
Wismilak Cigar — pertemuan dan persahabatan.
Mengunjungi Booth-Booth Pilihan — eksplorasi Besuki Raya, El Gaucho, dan Esperitu.
Tuksedo Studio — penutup visual bersama mobil klasik dan karakter-karakter CigarComic.
Delapan halaman ini merupakan interpretasi artistik atas pengalaman dan dokumentasi acara, bukan rekaman literal dari setiap adegan atau percakapan yang terjadi. Justru di situlah saya melihat salah satu kemungkinan pemanfaatan AI yang menarik: memperluas cara kita mengomunikasikan pengalaman nyata.
Saya cukup sering membicarakan perkembangan AI, termasuk potensi manfaat dan persoalan yang perlu kita antisipasi. Pengembangan CigarComic memberi saya kesempatan untuk melihat persoalan tersebut melalui praktik langsung.
AI memungkinkan seseorang mengembangkan karya visual dengan pendekatan yang sebelumnya membutuhkan sumber daya produksi berbeda. Namun kemampuan menghasilkan gambar tidak otomatis menghasilkan sebuah cerita yang memiliki konteks.
Ada hal-hal yang tetap perlu datang dari manusia.
Keputusan untuk menghadiri sebuah acara. Rasa ingin tahu terhadap suatu industri. Percakapan yang terjadi. Pemahaman terhadap konteks budaya. Hingga tanggung jawab menentukan bagaimana seseorang atau sebuah jenama direpresentasikan.
AI dapat membantu mengubah dokumentasi menjadi ilustrasi. Namun pengalaman yang melatarbelakangi dokumentasi tersebut tetap memiliki nilai tersendiri. Saya juga melihat perlunya transparansi dalam menggunakan teknologi ini. Karena itu, penting membedakan antara dokumentasi fotografis dan adegan komik yang merupakan interpretasi artistik.
Keduanya dapat saling melengkapi, tetapi tidak seharusnya diperlakukan sebagai hal yang sama.
Sejak awal, saya tidak ingin CigarComic hanya menjadi kumpulan ilustrasi tentang cerutu.
Saya ingin mengembangkannya sebagai sebuah intellectual property (IP) yang mempunyai karakter, narasi, dokumentasi, dan dunianya sendiri.
Melalui Prof. Dapatabi Gamanahu serta karakter-karakter lain dalam semesta CigarComic, kami mencoba menghadirkan berbagai tema, mulai dari sejarah, terroir, anatomi, proses produksi, hingga cerita mengenai manusia dan budaya di balik industri tersebut.
ICF 2026 memberikan kesempatan untuk menghubungkan dunia komik dengan kegiatan nyata. Ini sekaligus menjadi eksperimen sederhana mengenai bagaimana sebuah IP digital dapat berkembang melalui berbagai format. Komik dapat menjadi artikel. Dokumentasi dapat menjadi ilustrasi. Pengalaman festival dapat menjadi special edition. Dan sebuah pertemuan dapat menjadi inspirasi untuk cerita berikutnya.
Seluruh proses itu membuka kemungkinan menarik bagi pengembangan konten kreatif dari Indonesia.
Tentu masih ada banyak hal yang harus kami perbaiki, terutama dalam konsistensi karakter, presisi ilustrasi, akurasi informasi, dan penguatan kualitas penceritaan.
Namun bagi saya, proses membangunnya sendiri merupakan bagian penting dari perjalanan tersebut.
Ada satu pemikiran yang saya bawa pulang dari pengalaman menghadiri Indonesian Cigar Festival 2026.
Kita hidup pada masa ketika teknologi memungkinkan sebuah pengalaman diubah menjadi berbagai bentuk karya dengan semakin cepat. Namun kecepatan produksi bukanlah satu-satunya ukuran kreativitas. Yang juga penting adalah kemampuan memahami apa yang sedang kita ceritakan, mengapa cerita itu perlu disampaikan, dan bagaimana karya tersebut menghormati manusia serta konteks yang menjadi sumber inspirasinya.
Bagi saya, CigarComic Special Edition bukan sekadar delapan halaman komik.
Ini adalah sebuah eksperimen tentang hubungan antara pengalaman nyata, industri tradisional, budaya lokal, kreativitas manusia, dan teknologi AI.
Sebuah perjalanan yang dimulai dari mengunjungi festival, bertemu orang-orang, mendokumentasikan berbagai hal, lalu menerjemahkannya menjadi cerita visual.
Dan mungkin itulah salah satu bentuk masa depan industri kreatif yang ingin terus saya eksplorasi.
Bukan manusia melawan AI.
Melainkan manusia yang tetap menentukan arah, dengan teknologi yang memperluas kemungkinan untuk berkarya.
Herman Umbu Billy
Creator - CigarComic.
Every Leaf Has a Story.
Baca juga: CigarComic Special Edition — Indonesian Cigar Festival 2026
https://www.cigarcomic.com/comic/indonesian-cigar-festival
Catatan: Artikel ini merupakan refleksi pribadi atas pengalaman menghadiri ICF 2026. Ilustrasi CigarComic dikembangkan dengan bantuan AI berdasarkan dokumentasi dan arahan kreatif. Adegan serta dialog dalam komik merupakan interpretasi artistik. Konten mengenai industri cerutu ditujukan bagi pembaca dewasa dan bukan anjuran untuk menggunakan produk tembakau.