KETIKA KEARIFAN LELUHUR BERTEMU ARTIFICIAL INTELLIGENCE
Pada tanggal 13 Maret 2026, saya menghadiri sebuah forum yang menarik sekaligus membuka ruang refleksi baru tentang masa depan teknologi. Acara berjudul “Reimagining Intelligence: Indigenous Wisdom and the Future of Inclusive AI” diselenggarakan oleh Tsinghua Southeast Asia Center bekerja sama dengan Fakultas Humaniora Universitas Udayana, bertempat di UID Bali Campus, Denpasar.
Forum ini merupakan kick-off event menuju International Conference on Indigenous Wisdom in the Contemporary World 2026, yang bertujuan mempertemukan para akademisi, peneliti, praktisi teknologi, serta pemegang pengetahuan budaya untuk mendiskusikan masa depan Artificial Intelligence yang lebih inklusif dan berakar pada kearifan lokal.
Sebagai peserta, saya datang bukan hanya untuk mengikuti diskusi, tetapi juga untuk mengamati dan belajar bagaimana dunia akademik mulai memandang kembali hubungan antara teknologi modern dan pengetahuan tradisional.
Dalam beberapa dekade terakhir, Artificial Intelligence berkembang pesat dengan fondasi utama pada data, algoritma, dan komputasi skala besar. Namun forum ini mengangkat sebuah pertanyaan yang sangat penting:
Apakah kecerdasan buatan harus selalu dibangun di atas paradigma teknologi Barat, ataukah ia juga bisa belajar dari peradaban manusia yang lebih tua?
Beberapa presentasi dalam forum ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan berbagai pendekatan, antara lain:
Penggunaan bahasa lokal sebagai basis pengembangan model AI.
Integrasi pengetahuan adat dan komunitas lokal dalam sistem pengambilan keputusan berbasis data.
Studi tentang bagaimana filosofi budaya seperti Tri Hita Karana di Bali dapat memberikan perspektif baru terhadap etika teknologi.
Upaya memetakan folklore dan pengetahuan tradisional sebagai dataset budaya untuk masa depan AI.
Pendekatan ini menegaskan bahwa teknologi tidak harus memutus hubungan dengan budaya, tetapi justru dapat berkembang dari akar pengetahuan masyarakat.
Bali sebagai Laboratorium Peradaban
Menariknya, banyak diskusi dalam forum ini menjadikan Bali sebagai contoh nyata bagaimana budaya dan sistem sosial masih hidup dalam kehidupan modern.
Beberapa konsep budaya yang sering disebut antara lain:
Subak – sistem irigasi tradisional yang mengatur distribusi air secara kolektif dan berkelanjutan.
Tri Hita Karana – filosofi keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Struktur sosial komunitas seperti banjar, yang menunjukkan bagaimana pengambilan keputusan kolektif masih berfungsi hingga hari ini.
Dalam perspektif teknologi, sistem-sistem ini sebenarnya dapat dipandang sebagai model algoritma sosial-ekologis yang telah diuji selama ratusan bahkan ribuan tahun.
Mengamati, Belajar, dan Merefleksikan
Bagi saya pribadi, menghadiri forum ini menjadi pengalaman yang menarik. Banyak ide yang disampaikan masih berada pada tahap konseptual dan akademik, namun diskusi yang muncul memperlihatkan arah baru dalam pemikiran global tentang teknologi.
Satu hal yang sangat jelas: masa depan Artificial Intelligence tidak hanya akan ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh nilai-nilai peradaban yang membentuknya.
Di tengah perkembangan AI yang sangat cepat, muncul kebutuhan untuk kembali melihat pengetahuan manusia dari perspektif yang lebih luas — termasuk dari tradisi, budaya, dan kearifan lokal.
Teknologi sebagai Perpanjangan Budaya
Jika kita melihat sejarah panjang manusia, setiap teknologi besar selalu lahir dari konteks peradaban tertentu. Demikian pula dengan AI di masa depan.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana membuat AI lebih pintar, tetapi juga: bagaimana membuat AI tetap manusiawi.
Dalam konteks Nusantara, kita memiliki kekayaan pengetahuan yang luar biasa:
sistem pengelolaan alam seperti Subak
kosmologi dan etika leluhur seperti Marapu di Sumba
tradisi konservasi seperti Sasi di Maluku
serta ratusan bahasa yang menyimpan cara berpikir masyarakat yang berbeda-beda.
Semua ini sebenarnya merupakan arsip peradaban yang berharga untuk masa depan.
Penutup
Forum ini memberikan satu refleksi penting: teknologi masa depan tidak harus memutus hubungan dengan masa lalu. Sebaliknya, masa depan mungkin justru membutuhkan kita untuk memahami kembali kebijaksanaan yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Bagi Indonesia, ini adalah kesempatan besar. Kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga dapat berkontribusi pada cara baru dunia memahami kecerdasan — kecerdasan yang tidak hanya berbasis algoritma, tetapi juga berakar pada budaya, komunitas, dan keseimbangan dengan alam.
Dan mungkin di situlah letak masa depan teknologi yang lebih manusiawi.