UNTUK MENCIPTAKAN MASA DEPAN
Ada satu hal yang semakin saya yakini dalam beberapa tahun terakhir:
masa depan tidak selalu dimulai dari tempat yang paling maju. Masa depan bisa dimulai dari siapa saja yang berani membayangkannya.
Hari ini kita hidup pada masa ketika teknologi berkembang dengan sangat cepat. Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan tidak lagi hanya menjadi bahan pembicaraan para ilmuwan, programmer, atau perusahaan teknologi dunia seperti beberapa tahun yang lalu.
AI sudah berada di sekitar kita.
Ia membantu manusia menulis, menggambar, membuat animasi, membaca data, merancang bangunan, mengembangkan bisnis, melakukan riset, menciptakan musik, hingga membayangkan sebuah kota yang bahkan belum pernah dibangun.
CARA MANUSIA BERKARYA DAN BERKERJA TELAH BERUBAH.
Pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah AI akan menjadi bagian dari kehidupan kita?”
Tetapi:
“Apa yang akan kita lakukan dengan AI?”
Ketika berbicara mengenai teknologi, banyak anak muda mungkin langsung membayangkan komputer, kode pemrograman, robot, atau laboratorium.
Padahal teknologi jauh lebih luas.
Bagi saya, teknologi adalah alat untuk memperbesar kemampuan manusia.
Seseorang yang memiliki kemampuan bercerita dapat menggunakan AI untuk mengembangkan cerita.
Seorang arsitek dapat menggunakannya untuk mengeksplorasi desain.
Seorang pengusaha dapat menggunakannya untuk menguji model bisnis.
Seorang animator dapat mempercepat proses visualisasi.
Seorang mahasiswa dapat menggunakannya sebagai partner untuk mengeksplorasi sebuah penelitian.
Bahkan seseorang yang memiliki sebuah gagasan tetapi belum mempunyai kemampuan menggambar dapat mulai memvisualisasikan apa yang selama ini hanya berada di dalam kepalanya.
Di sinilah perubahan besar sedang terjadi.
Jarak antara ide dan karya menjadi semakin pendek.
Saya sendiri mencoba menggunakan teknologi dan AI bukan sekadar untuk bereksperimen, tetapi sebagai bagian dari proses menciptakan berbagai karya.
Salah satunya adalah NUSANTARA.EXE.
NUSANTARA.EXE berangkat dari pertanyaan sederhana:
Seperti apa Indonesia seratus tahun dari sekarang?
Dari pertanyaan itu berkembang sebuah dunia Indonesia tahun 2145, dengan kota masa depan, Artificial Intelligence, sistem ekonomi baru, energi, budaya Nusantara, dan berbagai persoalan tentang hubungan manusia dengan teknologi.
AI membantu proses eksplorasi dunia tersebut: dari pengembangan gagasan, karakter, visualisasi lingkungan, storyboard, hingga eksplorasi bagaimana dunia masa depan itu dapat diceritakan melalui film dan novel.
Namun AI tidak menentukan ceritanya.
Manusia tetap menentukan apa yang ingin dikatakan - Teknologi membantu kita memperluas kemungkinan.
Eksplorasi IP NUSANTARA.EXE — sebuah imajinasi tentang Indonesia, teknologi, manusia, dan kecerdasan buatan pada tahun 2145.
Eksplorasi teknologi juga membawa saya pada gagasan Mandiri Quantum Network atau MQN.
Jika NUSANTARA.EXE bergerak melalui dunia cerita, MQN mencoba mengajukan pertanyaan yang berbeda:
Bisakah teknologi membantu kita membangun sistem ekonomi yang lebih menghargai kontribusi, dampak, energi, dan niat manusia?
Dari sana berkembang eksplorasi mengenai sistem penilaian berbasis empat pilar:
Contribution - Impact - Energy - Intent
Gagasan seperti ini tentu tidak lahir dalam satu malam.
Ada proses membaca, berdiskusi, menguji asumsi, membuat model, membuang gagasan yang tidak bekerja, kemudian mencoba lagi.
AI sangat membantu proses tersebut.
Tetapi satu hal penting perlu dipahami oleh generasi muda:
AI dapat mempercepat proses berpikir, tetapi ia tidak boleh menggantikan kemauan kita untuk berpikir.
Gunakan AI untuk bertanya lebih jauh.
Bukan untuk berhenti bertanya.
Mandiri Quantum Network (MQN), eksplorasi sistem teknologi yang menghubungkan kontribusi, dampak, energi, dan intent.
Saya sangat percaya bahwa teknologi tidak seharusnya membuat kita kehilangan identitas.
Justru sebaliknya.
Teknologi seharusnya memberikan kita alat baru untuk menceritakan siapa kita kepada dunia.
Itulah salah satu semangat di balik berbagai karya yang dikembangkan melalui SumbaMedia HUB dan CIVILARC.ID
Cerita tentang Indonesia.
Tentang Sumba.
Tentang Bali.
Tentang Nusantara.
Tentang budaya, manusia, masa depan, bahkan tentang hal yang kelihatannya sederhana seperti kopi dan cerutu.
Melalui CigarComic.com, misalnya, AI dan teknologi visual digunakan untuk membantu mengembangkan media edukasi tentang budaya cerutu Indonesia melalui karakter, komik, ilustrasi, dan storytelling.
Sebuah pengetahuan yang biasanya disampaikan melalui artikel panjang dapat diterjemahkan menjadi cerita visual yang lebih ringan dan menarik.
CigarComic.com mengeksplorasi komik dan storytelling sebagai medium edukasi mengenai ekosistem cerutu Indonesia.
Contoh lainnya adalah Konda Maloba Coast di Sumba.
Di sini teknologi digunakan dalam konteks yang sama sekali berbeda.
Sebuah kawasan yang masih berupa bentang alam dapat mulai diterjemahkan menjadi visi destinasi melalui pemetaan gagasan, masterplan, visualisasi, video konseptual, website, hingga materi komunikasi investasi.
AI membantu manusia melihat sesuatu yang belum ada, tetapi mungkin diwujudkan.
Dan bagi saya, kemampuan seperti ini sangat penting bagi daerah.
Karena banyak daerah di Indonesia sebenarnya tidak kekurangan potensi.
Kita sering kali hanya kekurangan kemampuan untuk menerjemahkan potensi menjadi visi yang dapat dilihat dan dipahami orang lain.
Eksplorasi Konda Maloba Coast — bagaimana teknologi, visualisasi dan storytelling membantu menerjemahkan potensi kawasan menjadi visi destinasi.
Anak Muda Tidak Harus Menunggu
Saya menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah atas di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Karena itu saya memahami bahwa tidak semua anak muda tumbuh di lingkungan dengan akses informasi, buku, teknologi, pendidikan, jaringan, atau kesempatan yang sama.
Tetapi dunia digital mulai mengubah sebagian batas tersebut.
Hari ini seorang anak muda dari Waingapu, Waibakul, Ruteng, Ende, Maumere, atau kota kecil lainnya dapat mengakses banyak teknologi yang juga digunakan oleh kreator di Jakarta, Surabaya, Denpasar, Singapura, Tokyo, Seoul, London, atau Silicon Valley.
Memang akses belum sepenuhnya setara.
Tetapi pintunya semakin terbuka.
Karena itu saya ingin mengatakan kepada generasi muda:
Jangan menunggu menjadi ahli untuk mulai menciptakan sesuatu.
Mulailah dengan rasa ingin tahu.
Pelajari satu alat.
Buat satu karya.
Selesaikan.
Tunjukkan kepada orang lain.
Terima kritik.
Perbaiki.
Kemudian buat karya berikutnya.
Teknologi berkembang dengan sangat cepat sehingga mungkin kita tidak akan pernah merasa benar-benar siap.
Maka kemampuan terpenting bukan mengetahui semuanya.
Kemampuan terpenting adalah TERUS BELAJAR.
Di tengah antusiasme terhadap AI, kita juga perlu memahami batasnya.
AI dapat menghasilkan gambar yang indah.
AI dapat menghasilkan ribuan kata.
AI dapat menganalisis data dalam waktu sangat singkat.
Tetapi teknologi tidak hidup di tengah masyarakat seperti manusia.
Ia tidak tumbuh bersama tradisi kita.
Ia tidak mengalami kegembiraan, kegagalan, kehilangan, persahabatan, keluarga, atau perjuangan sebagaimana manusia mengalaminya.
Karena itu saya percaya masa depan terbaik bukanlah:
AI menggantikan manusia.
Melainkan:
Manusia yang memahami dirinya sendiri, kemudian menggunakan AI untuk memperbesar dampaknya.
Kreativitas manusia tetap menjadi pusatnya.
Nilai tetap berasal dari manusia.
Tujuan tetap ditentukan manusia.
Indonesia memiliki populasi generasi muda usia produktif yang sangat besar (bonus demografi).
Jika generasi muda kita hanya menjadi pengguna teknologi, maka kita akan menjadi pasar.
Tetapi jika kita mulai menggunakan teknologi untuk menciptakan produk, cerita, perusahaan, penelitian, desain, film, aplikasi, destinasi, dan berbagai solusi baru, kita mempunyai kesempatan menjadi pencipta nilai.
Saya ingin semakin banyak anak muda Indonesia berani mengatakan:
Saya bisa membuat sesuatu dari sini.
Tidak harus pindah ke Silicon Valley.
Tidak harus menunggu perusahaan besar.
Tidak harus memiliki modal miliaran rupiah.
Mulailah dari apa yang ada.
Laptop.
Telepon genggam.
Internet.
Sebuah masalah.
Sebuah gagasan.
Dan keberanian untuk mencoba.
Teknologi hanyalah alat.
AI juga hanyalah alat.
Pada akhirnya yang menentukan ke mana alat itu membawa kita adalah manusia yang menggunakannya.
Saya memilih menggunakan teknologi untuk membayangkan sesuatu.
Membangun sesuatu.
Menceritakan sesuatu.
Dan sebisa mungkin menciptakan sesuatu yang mempunyai hubungan dengan tempat saya berasal dan masyarakat di sekitar saya.
Saya berharap semakin banyak generasi muda melakukan hal yang sama.
Bukan meniru apa yang saya kerjakan.
Tetapi menemukan persoalan dan mimpi mereka sendiri.
Karena mungkin karya besar berikutnya tidak lahir dari Jakarta.
Tidak dari Silicon Valley.
Tidak pula dari kota besar dunia.
Mungkin ia lahir dari sebuah desa di NTT.
Dari sebuah kamar kecil di Rote.
Dari sebuah kampus di Bali.
Atau dari seorang anak muda yang malam ini membuka laptopnya dan untuk pertama kalinya mengetik:
“Saya punya sebuah ide.”
dan
DARI KALIMAT SEDERHANA ITU, SESUATU MULAI DICIPTAKAN.